— Abel
Pada akhirnya, sandiwara hari itu berakhir dengan kami yang nggak pulang. Ibu memegang tangan gue begitu erat saat kami pamit di depan pintu jati besar itu, dan Aga — dengan segala kemampuannya membaca situasi yang selalu membuat gue takjub sekaligus kesal — memutuskan bahwa kami akan menginap.
Gue menyadari kekakuan itu lagi saat Ibu membuka pintu kamar di ujung lorong rumah Kemang Timur ini. Gue dan Aga memang pernah menginap beberapa kali di sini, tapi bisa dihitung dengan jari sebelah tangan. Biasanya, kami selalu punya alasan untuk langsung pulang ke rumah kami sendiri, ke zona nyaman yang lebih luas di mana kami bisa saling menghindar dengan lebih leluasa.
“Akhirnya ya, rumah ini ketemu lagi sama pemiliknya. Masih Ibu rapiin loh, takut tiba-tiba kalian menginap lagi,” kata Ibu dengan nada yang gue nggak bisa putuskan apakah terdengar menyenangkan atau justru menyedihkan. Ada harapan besar di sana yang gue nggak sanggup tanggung.
Kamar ini jauh lebih kecil dari kamar utama di rumah kami. Ranjangnya pun bukan king size yang biasa memberikan kami jarak aman sejauh satu meter saat tidur. Di sini, ruangannya begitu padat, seolah-olah setiap sudutnya menyimpan memori yang belum sempat gue pelajari. Rak buku di dinding kiri masih penuh dengan buku-buku hukum yang punggungnya sudah pudar dimakan waktu.
Meja belajar di sudut ruangan menunjukkan bekas pemakaian bertahun-tahun; catnya sedikit mengelupas di bagian tepi, tempat Aga mungkin dulu sering menyandarkan sikunya saat belajar hingga larut malam.
Ada foto wisuda di atas meja. Aga yang lebih muda, dengan toga dan senyum yang… masih sama. Tenang, percaya diri, namun menyimpan sesuatu yang sulit ditembus. Gue duduk di tepi ranjang, menatap foto itu cukup lama, mencoba mencari tahu di titik mana cowok ambisius di foto ini memutuskan untuk hidup dalam kontrak pernikahan dengan gue.
“Harusnya kita pulang, Ga,” kata gue lirih. Suara gue memantul di dinding kamar yang sempit, terdengar lebih rapuh dari yang gue bayangkan.
Aga menutup pintu di belakangnya. Suara gerendelnya yang beradu dengan logam terdengar begitu final di telinga gue. “Ibu udah senang kita mau nginep, Bel. Kamu lihat sendiri tadi gimana wajahnya.”
“Kita bilangnya cuma mampir, bukan mau nginep.”
“Bel…” Aga menghela napas, sebuah suara yang menandakan dia sedang mengumpulkan kesabaran.
“Ga, gue nggak bawa baju ganti. Skincare gue, semuanya ada di apartemen,” gue mencari-cari alasan logis untuk kabur dari keintiman yang dipaksakan ini. Gue butuh tembok, dan kamar ini terlalu sempit untuk membangunnya.
“Lo bisa pakai kaos gue yang ada di lemari. Masih ada beberapa kaos bersih yang bisa lo pakai.” Aga melangkah mendekat. Dia menatap gue dengan cara yang sudah gue hafal — sabar, tapi kali ini ada sesuatu di baliknya yang berbeda. Kelelahan yang nyata di sudut matanya. “Lo nggak pakai baju pun nggak apa-apa. Nggak usah malu, gue sudah lihat semuanya.”
Gue mendelik tajam. “Ga… nggak lucu, tahu nggak?”
Aga tidak tersenyum. Dia hanya menatap gue datar. “Kita bisa aja milih pulang sekarang dan mungkin Ibu juga nggak akan bertanya kenapa kalau kita langsung pamit. Tapi gue tahu dia pasti menyadari ada yang nggak beres di antara kita. Lo mau dia kepikiran semalaman? Lo mau dia menelepon besok pagi cuma untuk tanya kenapa menantunya mukanya ditekuk terus? Katanya lo menantu kesayangannya..”
Gue membuka mulut, ingin membantah dengan seribu argumen tentang privasi dan batasan, tapi kemudian menutupnya lagi. Itu yang paling menjengkelkan dari seorang Aganta Noah; dia jarang salah soal bagaimana orang-orang yang dia sayangi membaca situasi. Dia tahu titik lemah gue adalah rasa bersalah pada Ibu.
Gue merebahkan tubuh di ranjang, membelakanginya sebelum dia sempat melihat mata gue yang mulai panas. “Gue ngantuk.”
Hening sebentar. Gue bisa mendengar suara Aga bergerak di belakang gue. Suara jam tangan yang diletakkan di atas meja dengan bunyi klik kecil, suara kancing kemeja yang dilepas satu per satu. Kemudian, lampu utama dimatikan. Hanya menyisakan lampu tidur kecil di nakas yang membiaskan cahaya jingga temaram, menciptakan bayangan-bayangan panjang di dinding.
“Mandi dulu, Bel. Gue tahu bener lo nggak bisa tidur kalau belum mandi. Lo mandi di kamar mandi gue aja. Biar gue pakai kamar mandi bawah,” katanya pelan.
Gue menurut tanpa kata dan langsung bergegas ke kamar mandi.